Bingung-Linglung-Murung.

Ah, sudahlah.
Aku sendiri tidak tahu salahku dimana.
Aku sendiri tidak tahu apa yang telah aku lakukan.
Aku sendiri tidak tahu apa yang telah aku lewatkan.

Atau mungkin, sebenarnya aku tahu..
Sebenarnya mungkin saja aku tahu salahku dimana.
Mungkin saja aku tahu apa yang telah aku lakukan.
Mungkin juga aku tahu apa yang telah aku lewatkan.

Apa mungkin aku sudah tidak ambil pusing lagi?
Ah, sudahlah. Suka-sukamu saja...

Quarter-Life Crisis?


Entah kenapa setelah banyak kejadian baik ataupun buruk yang akhir-akhir ini terjadi membuat gw jadi berpikir tentang masalah pernikahan dan jodoh.

Awalnya mungkin karena umur yang udah 25 tahun. Usia yang katanya orang-orang udah pas untuk memulai ngebentuk keluarga sendiri, such as suami/istri/anak. Gw ga pernah ambil pusing masalah usia ideal seorang cewek harus menikah, nampaknya kuliah di jurusan psikologi dan sempet belajar tentang psikologi gender dan perempuan membuat pola pikir gw yang dibilang orang-orang jadi agak-agak liberal. Toh bukan liberal, tapi memang bagi gw sendiri nikah di usia muda, seperti temen-temen gw yang udah nikah sejak 1-2 tahun yang lalu, gw sendiri belom siap.

Lalu karena temen-temen sepantaran gw yang sebagian udah settle dengan pasangannya masing-masing, beberapa sudah menikah, bahkan udah punya anak. Setiap gw buka facebook, selalu aja ada yang update dan ngepost foto tentang proses persalinan mereka, foto pernikahan, foto pertunangan, atau foto perkembangan tentang anak-anak mereka. Bahkan pernah dalam satu minggu gw dapet 3 undangan nikah temen-temen gw. Mereka yang tumbuh terlalu cepat atau gw yang masih adem ayem saja dengan perkembangan hidup gw ini?

Ga dipungkiri, yang namanya seorang perempuan itu punya satu tujuan (atau lebih tepatnya, Impian) terbesar dalam hidup mereka selain mengejar cita-cita dan karier. Yaitu menikah dan punya keluarga sendiri. Gw sendiri pun ingin. Dan gw rasa ini bukan hanya perempuan saja yang punya impian kayak gini, temen gw yang cowok pun juga punya keinginan terbesar untuk segera menikah.

Tapi entah kenapa gw sendiri masih belum siap. Masih takut dan masih merasa bahwa diri ini belum layak memiliki dan ngurusin yang namanya "suami". Terkadang kalo gw lagi iseng menganalisa kenapa gw begini, mungkin penyebabnya adalah memang belum ketemu orang yang tepat untuk meyakinkan gw bahwa gw mampu dan bisa menjalin rumah tangga dengannya. Nobody said it was easy, tapi semua orang bilang it's worth it.

Mungkin juga gw masih takut untuk berhubungan serius dengan seorang pria dewasa. Masih "traumatis", kalo kata temen deket gw. Masih menutup hati dan masih menyangkal. Dan juga mungkin gw (secara tidak sengaja) masih menolak siapapun yang berusaha mendekati gw. Self-defense based on unconscious mind sih gw rasa. Namun ada baiknya jg gw bersikap seperti itu kan? Toh kalo memang ada seorang pria yang berhasil buat meyakinkan gw, itu berarti dia memang berusaha sungguh-sungguh untuk serius.
Kalau ngomongin peristiwa "traumatis" mungkin ga ada abisnya. Terlalu capek untuk merunut ke belakang mengenai apa-apa saja yang membuat gw masih takut untuk membuka diri. Tapi ini seharusnya menjadi tanggung jawab pribadi gw, bukan kesalahan orang di masa lalu yang sudah bikin terluka.

Dan ketika kita membicarakan mengenai jodoh, gw dan temen-temen gw selalu berkhayal seperti apa pasangan kita masing-masing nanti. Seperti apa anak-anak kita jadinya?
Dan gw bahkan pernah takut membayangkan bahwa gw sudah "membuang" jodoh gw sendiri. Kayak di lagu & video clip-nya Katy Perry yang The One That Got Away.
Gw takut kalau ternyata gw sudah "melewatkan" jodoh yang dikasih oleh Tuhan ke gw karena gw terlalu sibuk sendiri dengan obsesi gw. Gw takut nantinya akan menikah dengan orang yang mencintai gw, namun gw sendiri tidak sebegitu mencintainya. Gw takut kalau suatu saat akan menikah dengan orang yang salah. Dan ujung-ujungnya akan merasakan penyesalan seumur hidup karena telah melewatkan orang yang kita cintai tanpa memperjuangkannya.

Tapi untuk sekarang aja gw ga tahu bagaimana cara memperjuangkannya kalau memang dari awal aja kita udah tahu semua ini salah dan ga boleh. Salah dan ga boleh menurut siapa? Menurut Tuhan atau manusia?
Kalau boleh minta ke Tuhan, gw ingin sekali memperjuangkannya. Memperjuangkan apa dan siapa yang ada dalam hidup gw sekarang. Jika Tuhan mengizinkan.

Kalaupun Tuhan memang tidak mengizinkan, gw yakin Tuhan punya orang-orang lain yang jauh lebih layak untuk menjadi pendamping di hidup gw. Di hidup kami.

Ah, galau usia 25 tahun ternyata begini ya. Mungkin memang lebih baik untuk sekarang gw konsen ke karier dan cita-cita saja dulu. Nanti juga akan datang saatnya lagu I Will-nya The Beatles akan berkumandang di pernikahan gw. :)

Back To Square One.

Back to square one. If you are back to square one, you have to start working on a plan from the beginning because your previous attempt failed and the progress you made is now wasted.

But, if from the very beginning you (we) realized all of these things are going to be wasted and has no happy ending, is it still count as "back to square one" or is it just another playground for us to play and take away all our dark and bitter side deep inside of us? And if the answer is the last one, let say what we've been through and left behind us is just another hallucinations? What a nice hallucinations we had. Or maybe the proper thing to say, it's a memory (ies). Plural.

Just like The Beatles song, Free As A Bird..
"What happened to the life that we once knew? Can we really live without each other? Where did we lose the touch. That seemed to mean so much. It's always made me feel.. Free as a bird..."

Oh, and maybe the right conclusion is... We just grew up and finally we learned something from what we've been through. This is the right answer, uh?

I hate growing up.

I Got No Distance Left To Run

Here comes the post when its title explains all. Here comes the cold hard truth moment. Bwah.

Karena selama ini sudah berdoa sama Tuhan untuk diberikan jawaban, dan sekarang nampaknya mata saya juga sudah dibuka agar melihat kenyataan yang sebenarnya. Bahwa kami tidak bisa. Tidak akan bisa. Akhirnya doa-doa tersebut dikabulkan (nampaknya).

Bukan hasil yang diinginkan. Namun hasil yang memang kami sudah tahu akan seperti ini (sudah tahu dari dulu). Namun kami masih tetap ndablek, hingga ujung-ujungnya sama-sama saling sakit kan..(apa hanya saya saja).

Mata kami sudah terbuka. Bahwa tidak ada apa-apa di depan sana untuk kami. Bahwa memang kami tidak ada hak untuk suatu kepemilikan satu sama lain. Bahwa percuma saja berbagi mimpi bersama. Bahwa memang kami tidak akan mengalah. Tidak ada apa-apa di depan sana untuk kita. Tidak ada dan tidak boleh.

Jadi kita menyerah saja? Sudah yah?
Jika memang ini mau Tuhan, ya sudah... Aku ikut mau-Mu saja Tuhan..

For What Is Worth.

Masih terjaga pukul 01:35, menjelang Senin pagi. Seharusnya sih udah tidur dan beraktifitas untuk Senin, tapi karena lagi liburan dan badan masih "jetlag" gara2 begadang gila-gilaan 2 minggu terakhir menjelang deadline kemarin yah masih gini aja nih jam tubuh gw.

Sekarang saatnya melindur, spill all of my thoughts in random words, mumpung udah lama ga update di sini. :)


Setiap waktu yang makin berjalan maju, setiap momen yang dilewatkan bareng atau terpisah namun saling menghubungi dengan jalan apapun, setiap saat-saat itu selalu membuat pikiran gw makin paranoid.
Apa yang akan terjadi. Apa yang seharusnya dilakukan. Apa yang seharusnya jangan pernah kita lakukan. Dan apa akan tetap seperti ini terus. Is it worth it?
Gw sendiri udah lelah dengan kode-kode, lelah dengan isyarat, lelah dengan kata-kata pengganti.
Jika ingin dibicarakan secara langsung bicarakan saja. Namun nampaknya memang kita masih paranoid. Masih in denial. Masih tidak ingin membicarakan topik sakral itu. Sesuatu yang tidak akan bisa kita ubah. Yang menghalangi di tengah-tengah itu.
Bisakah langsung to the point saja? Tapi toh pada akhirnya kita sama-sama menikmatinya kan. Apa yang sedang berjalan ini. Kita masih sama-sama bisa membuat satu sama lain tersenyum dan tertawa, toh.
Kita bukannya terlalu takut untuk keluar dari zona nyaman, kita hanya sama-sama takut kehilangan. Kehilangan pegangan. Kehilangan orang yang sudah membuat kita sama-sama menjadi lebih kuat beberapa bulan belakang ini. Tapi kita juga ga mau maju, ga bisa maju, karena memang tidak akan ada apa-apa bagi kita di depan sana.
Gw berjanji akan menikmatinya saja dan berhenti jadi paranoid. Que sera sera, whatever will be will be. Terserah orang mau bilang kita ini apa. Kita ini ga boleh, kita ini ga bisa. Terserah mereka. Yang penting gw senang. Gw bahagia dan tidak merugikan orang lain. Tidak menentang Tuhan.
Harus dinikmati saja ya yang ada sekarang. Even in the end we dont know where we will going, what we'll get through, or what we gonna be.. Dinikmati saja ya, Candu?

Another random thoughts, yet i've tried to be honest. Goodnight, nocturnal beings. Goodnight, Candu.. :")

Selamat Sore, Jakarta.


Terkadang ada momen di mana hidup yang kita jalani terasa seperti video clip. Bukan hidup kita secara keseluruhan, tapi beberapa peristiwa dalam hidup yang menurut kita "Kok ini video clip banget ya?!".
Bisa jadi pada saat kita sedang ketinggalan bus, lalu hujan, dan lalu mellow-mellow sendu berkumandang tiba-tiba di dalam pikiran kita. Lalu kita tiba-tiba berpikir, "Wah..ini mah video clip banget yah?!".

Gw sering mengalami momen-momen seperti itu. Karena gw orang dengan sifat intuition yang cukup dominan (berdasarkan hasil tes psikologi MBTI. hehe) dan hal itu menyebabkan pikiran gw sering melanglang buana kemana-mana saat sedang bengong. Yap, bengong. Apalagi jika sedang dalam perjalanan dan kuping gw tersumbat suatu peralatan elektronik bernama earphone untuk mendengarkan mp3.

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu, saat perjalanan pulang gw menuju rumah. Saat itu sekitar pukul 17.00 lewat sedikit, gw pulang lebih cepat karena udah ga ada kerjaan lagi yang mau diurusin. Cuaca masih hangat dan sisa-sisa cahaya matahari masih cukup terang benderang. Walaupun matahari sudah mau tenggelam, tapi cahayanya masih terlihat kuning keorange2an. Hujan baru aja reda, jadi kondisi jalan sekitar masih basah.

Gw duduk di kursi sebuah kendaraan umum, kuping terpasang earphone yang sedang memutar lagu secara acak, dan memandang ke arah luar jendela. Tiba-tiba lagu Feist yang berjudul Lover's Spit terputar di mp3 dan pandangan gw sedang memandang ke arah kolong jembatan penyebrangan untuk penumpang bus transjakarta.
Di sana ada ibu-ibu lagi jualan minuman warna-warni mencolok di gerobak sambil gendong anak batitanya yang terlihat baru aja selesai mandi (karena rambutnya basah dan mukanya putih belepotan bedak tabur), anak-anak kecil pengamen yang lagi main sambil sedikit dorong-dorong bahu temannya, beberapa pemuda yang bolak-balik membawa benda-benda berat dan mereka tidak beralas kaki, beberapa pemuda pemudi yang terlihat seperti anak kuliahan baru pulang kuliah melewati mereka dan terlihat acuh tak acuh.
Dan tiba-tiba ada segerombolan bule (4 orang) ber-backpacker, dengan gaya cuek mereka.. Kaos oblong, celana pendek, sepatu, topi, sepatu sendal, tas backpack guede banget, dan memegang peta. Mereka turun dari jembatan busway dan terus berjalan tanpa melihat kanan-kiri. Terlihat sudah fasih dengan jalanan Jakarta, namun masih megang peta.

Lover's Spit masih berkumandang di kuping gw saat gw memandang pemandangan itu semua. Padahal lagu dan kondisi yang gw pandangi itu ga sesuai. Tapi entah kenapa suara Leslie Feist, suara piano, dan melodi yang terdengar kok bener-bener menohok dengan pemandangan saat itu ya. Rasa-rasanya seperti sebuah video clip Feist - Lover's Spit versi bikinan gw di mana semua pemandangan yang gw saksikan tadi itu berjalan secara slow-motion. Menangkap semua sudut Jakarta.

Melankolis dan memang itulah realita di tiap sudut kota Jakarta.

Selamat sore, penghuni kota Jakarta dan sekitarnya... :)

(sumber foto : dari om Google, ternyata ada watermarknya) :)

Kamu Lagi, Candu...

Di malam-malam kurang tidur seperti ini, pikiran pasti kemana-mana. Entah memikirkan deadline, beban ini-itu, masa lalu, memikirkan kamu sang candu, dan semua-semuanya. Apalagi jika sambil mendengarkan suara Paul McCartney, John Lennon, atau Damon Albarn. Manusia-manusia halusinogen itu membuat saya berpikir kesana kemari. Sampai akhirnya tadi saya memikirkan tentang Tuhan.

Saya bukan orang yang segitunya religius. Ibadah 5 waktu saja masih bolong-bolong. Berpakaian masih seenaknya. Masih sering mengumpat dan bahkan minum alkohol. Yang saya sanggup lakukan adalah solat semampu saya ketika saya masih mampu, mengurangi minum minuman alkohol, dan berusaha berpakaian sepantasnya.
Hubungan saya dan Tuhan sepertinya baik-baik saja. Karena Ia pula saya masih bisa makan kenyang, tidur nyaman dan aman, sekolah yang tinggi, bisa bekerja dan menghasilkan uang, masih bisa bersenang-senang dan menjalani hobby. Berkat Ia pula saya dicintai orang-orang yang mencintai saya.

Intinya yang pasti Tuhan ingin saya ini bahagia. Tuhan mana yang menginginkan umatNya kesusahan? Semua kesulitan yang diberikan Tuhan pasti ada maknanya, saya yakin itu.
Lalu kebahagiaan yang saya jalani sekarang dengan sang candu itu harus saya teruskan atau hentikan? Kalau terlalu berbeda di antara saya dan sang candu, apakah Tuhan tidak akan setuju?

Tapi saya yakin Tuhan ingin saya bahagia. Saya yakin. Selama sang candu masih bisa memberikan kebahagiaan kepada saya tanpa kami berbuat dosa, saya yakin ini yang Tuhan mau.

Terimakasih, Tuhan..
Sampaikan salam pada sang candu, saya sedang rindu sang candu yang sedang kesana kemari.. :)