Porosku Sudah Bergeser.

Yang namanya titik gravitasi kehidupan seseorang bisa bergeser kapan saja. Bergeser dari satu titik ke titik yang lain.
Titik poros hidupku selama ini berantakan. Terombang-ambing ke sana kemari.
Sejauh apapun aku pergi, aku belum bisa menemukan titik poros hidupku.
Aku hanya ingin ditemukan. Aku hanya ingin berlabuh dan menemukan titik gravitasiku.

Namun mungkin sekarang porosku sudah bisa kembali normal lagi.
Mungkin sekarang aku sudah menemukan kembali titik poros yang membuatku menjadi orang yang lebih baik.
Aku belum pernah merasa lebih baik dari ini sejak waktu yang sudah lama sekali.

Hai, kamu... :)


Pengalaman, Guru Saya.

Gw inget dulu waktu masih kelas 3 SD, pernah dikasih PR dari guru gw. PR nya disuruh membuat poster yang isi tulisannya mengenai kata-kata mutiara.
Gw ga inget isi poster gw tentang apa. Yang gw inget malahan saat itu pertama kalinya gw 'berkenalan' dengan salah satu kalimat mutiara legendaris kesukaan gw sampe sekarang, yaitu "Pengalaman adalah Guru terbaik". 

Saat itu (masih umur sekitar 8-9 tahun), gw rasa gw belum paham benar mengenai makna dari kata mutiara tersebut. Sekarang, beranjak dewasa, gw sudah banyak mendapatkan pengalaman berharga di hidup. Sudah banyak "guru" yang mengajarkan gw secara langsung mengenai kehidupan ini. 

Tertawa, menangis, sakit hati, mencintai, dicintai, kehilangan, kematian, kelahiran, kebahagiaan, tragedi, dan peristiwa-peristiwa lain sudah gw alami dan rasakan. 

Yang tersulit dilalui? Tentu saja saat bokap meninggal. 
Yang paling bahagia? Ini banyak. Mungkin salah satunya adalah melingkupi nyokap dan pengalaman traveling gw. 

Ada satu hal yang sekarang sedang menjadi 'guru master' gw. Yaitu 'Sang Guru Ahli Melepaskan dan Mengikhlaskan'. 
Untuk melepaskan segala sesuatu yang menyakitkan.
Untuk melepaskan segala sesuatu yang membawa pengaruh negatif.
Untuk mengikhlaskan yang bukan hak milik gw. 
Untuk mengikhlaskan disakiti.
Dan termasuk untuk mengikhlaskan kehilangan sahabat. 

Yang ini sulit. Guru yang satu ini sangat keras. Ujian dariNya pun hampir membuat gw tidak lulus. Tapi berkali-kali remedial gw jalani. Karena gw yakin semua ujian dariNya pasti diberikan kepada gw karena Ia tahu gw pasti bisa melewatinya.
Meski berkali-kali harus remedial, janjiNya hanya satu; pelajaran yang sangat berharga dari semua pengalaman kehilangan ini. 

Gw akui gw pun rindu. Sangat rindu akan masa itu.. Tapi semua ada masanya. Ini masanya gw naik kelas, meninggalkan segala drama dirinya..meninggalkan yang tidak baik. 

Mari berjalan lagi, jangan lelah kaki-kakiku...

Ini Seharusnya Tidak Perlu.

Tuhan,
sudah hampir 1 bulan (atau baru saja 1 bulan?). Semoga aku semakin kuat. Aku sudah pernah melaluinya dan ini bukan yang terburuk kan?

Jika ku bilang tidak rindu, itu tidak mungkin.
Aku rindu. Sangat rindu.
Tapi itu adalah perasaan yang tidak perlu dirasakan untuk orang seperti dia.

Biarkanlah aku mulai berjalan lagi ya...

Aku Penjudi Yang Buruk.

"Problemku terbesar adalah mempercayai spesies Homo Sapiens. Termasuk diriku sendiri. Padahal, manusia terlahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman dibanding rahim ibu. Namun, di detik pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percayamu yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta. Aku penjudi yang buruk. Aku tak tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta bersinar gemilang menyilaukan mata, kalang kabut aku menyerahkan semua yang kumiliki. Kepingan rasa percaya bertaburan di atas meja taruhanku. Dan aku pulang tak pernah membawa apa-apa."

(Dee Lestari, Partikel)

Terjun Bebas.

"Bukan. Bukan lagi jatuh cinta. Aku terjun bebas. Tanpa tali pengaman. Tanpa lagi peduli apa yang menyambutku di dasar sana. Kalau memang ada dasarnya." (Partikel - Dee Lestari)

Lalu aku tersadar, selama ini aku terjun bebas. Pantas saja sekarang rasanya sakit dan remuk.

This is Hard.

Never crossed in my mind before if leaving is gonna be this hard.
I thought it's easier to leave behind than being left.
And i keep asking and convincing myself, "Are you sure? Are you okay with all of this thing?"

And to think about it again, I've been through the worst time in my life. I've survived the last 9 years without my dad.
This too shall pass.

This too shall pass.. It's just a moment, this time will pass...

-Posting from my cellphone.-

Maaf dan Terimakasih.


Selama ini aku berpikir bahwa hari-hari ku sudah kembali tenang tanpa terusik. Aku pikir aku sudah duduk kembali nyaman di kursi penontonku. Kembali menyaksikan semua peristiwanya dengan tenang, aman... Damai.

Aku tidak tahu mengapa terseret kembali ke dalam drama hidupnya. Ke dalam konflik hidupnya. Ke dalam kisah antagonis dirinya. Karena aku hanyalah pemain figuran di dunianya. Aku hanya ingin menjadi penonton saja, bukan terseret-seret lagi.

Segala sesuatu ada masanya. Dan ada masanya aku menjadi lelah dengan ceritanya. Aku bahkan lelah dengan diriku saat berada di dunianya. Aku kehilangan duniaku. Kehilangan titik gravitasiku. Aku kehilangan pusat duniaku. Semua sudah bergeser berpusat pada dirinya.

Ada pula masanya aku harus meninggalkan. Meninggalkan semua yang sudah dijalani hampir 4 tahun ini. Meninggalkan semua kisah tawa canda, bahagia, marah, dan sedih kita. Meninggalkan diri antagonisnya yang hanya memanfaatkan. Meninggalkan semua drama dirinya. Meninggalkan kisah kita.

Mau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada kehilangan seorang kekasih?? Kehilangan seorang sahabat. Ini perasaan kolektif. Aku sendiri tidak menyangka akan sesakit ini.

Ini juga bukan cinta. Ini fiksasi. Karena seperti kata Samuel Mulia, "Mencintai itu tak pernah meluluhlantakkan diri anda dan orang lain. Itu bukan cinta dan bukan akibat dari mencintai." 
Aku luluh lantak setiap berada dalam drama barumu. Dan aku sadar aku terfiksasi oleh dirimu. Itu tidak sehat dan aku ingin "bersih" lagi. Dengan cara apapun akan ku tempuh supaya "bersih" kembali. Walaupun dengan cara meninggalkan semuanya dan aku tahu aku akan menangis setiap malam, terpuruk di hampir setiap hari-hariku, dan tersaruk-saruk lagi.

Tapi aku tahu, aku akan bertahan. Aku akan "hidup" kembali dengan atau tanpamu. Sesulit apapun itu, aku yakin aku bisa. Untuk sekarang aku akan terlihat lemah dan mengenaskan. Itu tidak apa-apa, itu sebagian dari proses. Karena aku tahu suatu saat aku akan kembali kuat lagi. It's just a moment, this time will pass.

Maaf untuk semua kesalahan dalam 4 tahun terakhir ini..
Terimakasih atas semua warna dan sudah pernah menjadi bagian dalam hidupku.. Munafik jika kubilang aku tidak akan rindu. Rasa itu akan tetap ada, dan aku akan tetap maju.
Terimakasih, teman....